Berita

Khalilur Rahman Tegaskan Sikap soal Polemik NU dan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar

×

Khalilur Rahman Tegaskan Sikap soal Polemik NU dan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Pernyataan keras kembali disampaikan Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy Al-Alawiy setelah tulisan berjudul “NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik” dirilis. Ia menegaskan bahwa berbagai hal yang menurutnya perlu disampaikan, dijelaskan, dan disuarakan telah ia sampaikan secara terbuka.

“Yang harus disampaikan sudah saya sampaikan. Yang harus dijelaskan sudah saya jelaskan. Yang harus disuarakan sudah saya suarakan. Selesai,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Menurut Khalilur Rahman, masih terdapat satu langkah yang belum ditempuhnya, yakni membawa persoalan tersebut ke ranah hukum pidana. Namun, ia mengaku memilih menahan langkah tersebut karena alasan personal dan penghormatan kepada sosok yang memiliki hubungan historis dengan lingkungan keilmuannya.

Ia menyebut Kiai Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar Jombang, sebagai salah satu sosok yang sangat dihormatinya. Ia juga mengaitkan penghormatan tersebut dengan pesan ayahnya mengenai pentingnya menjaga adab terhadap guru dan keluarganya.

“Saya diajarkan bahwa menghormati guru juga berarti menghormati keluarganya,” katanya.

Khalilur Rahman kemudian menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir dirinya berkomunikasi secara intensif dengan empat orang yang menurutnya memiliki perhatian terhadap keberlangsungan Nahdlatul Ulama (NU).

Ia mengatakan, komunikasi tersebut membahas perlunya menjaga NU agar polemik yang berkembang tidak justru menimbulkan keretakan internal organisasi.

Dalam pernyataannya, Khalilur Rahman juga mengklaim bahwa keempat orang tersebut memiliki pandangan yang sama dengannya mengenai dugaan adanya suap dan jual beli suara dalam Muktamar ke-35 NU. Ia mendorong agar dugaan tersebut dibuka dan diperiksa secara transparan.

Namun, pernyataan tersebut merupakan klaim dari Khalilur Rahman dan belum disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen dalam pernyataan yang disampaikan.

Setelah itu, ia mengaku diminta mengambil jarak dari polemik tersebut. Khalilur Rahman menyatakan dirinya bersedia mempertimbangkan permintaan tersebut dengan sejumlah syarat.

Baca juga:
Rengginang Situbondo Tembus Nasional Berkat BRI Kupedes

Pertama, ia meminta Rais Aam PBNU mengundurkan diri. Kedua, ia meminta pihak-pihak yang menurutnya menerima suap mengembalikan uang tersebut kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketiga, ia meminta agar tidak ada pihak yang menyeret dirinya ke proses pidana.

Khalilur Rahman menegaskan bahwa apabila dirinya lebih dahulu dilaporkan atau diproses secara hukum, ia menyatakan siap menempuh jalur hukum dan melaporkan dugaan tindak pidana yang menurutnya berkaitan dengan pihak-pihak yang ia sebut.

“Kalau dia mengajak saya perang pidana, saya akan memilih berperang dan memidanakan pihak-pihak yang saya anggap terkait,” tegasnya.

Di bagian lain pernyataannya, Khalilur Rahman menempatkan sikap tersebut sebagai bagian dari apa yang ia sebut sebagai perjuangan amar makruf nahi mungkar. Ia menyatakan bahwa keberpihakan terhadap prinsip yang diyakininya lebih penting dibandingkan penerimaan dari pihak tertentu.

“Saya lebih memilih dicintai Allah dan Rasulullah daripada dipuji para pihak yang menurut saya tidak menjalankan prinsip yang benar,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pesan bahwa tidak semua santri NU dapat ditekan dan tidak semua kiai NU dapat ditakut-takuti.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penutup sikap Khalilur Rahman atas polemik yang ia angkat melalui tulisannya. Ia menegaskan bahwa dirinya telah menyampaikan apa yang dianggapnya perlu, sementara langkah selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan persoalan dan kemungkinan adanya proses hukum.