Berita

BNPT Waspadai Radikalisme Digital yang Incar Pelajar

×

BNPT Waspadai Radikalisme Digital yang Incar Pelajar

Sebarkan artikel ini
Radikalisme
BNPT Sosialisasi di SMAN 1 Jamblang, Cirebon, Jawa Barat (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme di kalangan generasi muda. Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui sosialisasi pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di lingkungan sekolah.

Kegiatan tersebut digelar di SMAN 1 Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dengan melibatkan para pelajar sebagai sasaran utama edukasi literasi digital dan bahaya radikalisme di ruang siber.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Eddy Hartono, mengatakan bahwa pelajar perlu memiliki kemampuan menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh konten kekerasan yang banyak beredar di internet dan media sosial.

Menurutnya, berbagai konten bernuansa kekerasan menjadi salah satu pintu masuk yang dapat memicu paparan paham ekstremisme di kalangan remaja.

“Konten yang menyebabkan pelajar terpapar isinya kebanyakan terpengaruh oleh konten unsur-unsur yang mengarah kekerasan,” ujar Eddy Hartono, Rabu (22/4/2026).

Ia menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan terdapat sejumlah faktor yang membuat pelajar lebih rentan terpapar radikalisme digital. Faktor tersebut di antaranya perundungan atau bullying, kurangnya ruang untuk bercerita sehingga mencari pelampiasan di media sosial, kondisi keluarga, hingga tekanan ekonomi.

Dalam kegiatan itu, para siswa tidak hanya menerima materi dari BNPT. Pembekalan juga diberikan oleh perwakilan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) serta Duta Damai Provinsi Jawa Barat.

Sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dan menolak paham radikal, acara kemudian ditutup dengan pembuatan video deklarasi bertema “Tolak Radikalisme”.

Sebelumnya, Eddy Hartono juga mengungkapkan bahwa penyebaran paham ekstremisme di era digital berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional pada masa lalu.

Ia menyebut, jika dulu proses radikalisasi melalui pertemuan langsung membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun, kini doktrin ekstrem dapat menyebar hanya dalam hitungan bulan melalui ruang digital.

Baca juga:
CV Indri Berkah Rejeki Peringati Ulang Tahun Pabrik Baru Bersama Ratusan Undangan

“Kalau dulu radikalisasi di tingkat tatap muka, sebelum digital itu butuh waktu sampai 3–6 tahun, tetapi saat era digital ini hanya waktu 3–6 bulan. Orang bisa dicuci otaknya untuk menjadi ekstremisme atau radikalisme,” katanya.

BNPT juga menyoroti tingginya kerentanan anak-anak dan perempuan terhadap penyebaran ideologi kekerasan di internet.

Menurut Eddy, kelompok tersebut kerap menjadi sasaran paparan paham radikal dan terorisme yang terus berkembang melalui berbagai platform digital.

“Kami sebelumnya sudah melakukan penelitian bahwa memang perempuan dan anak ini juga menjadi kelompok rentan, terpapar, baik terpapar kepada paham-paham kekerasan maupun terhadap paham-paham radikal terorisme,” ujarnya.

BNPT menemukan bahwa penyebaran konten ekstrem banyak beredar melalui platform digital seperti YouTube, Telegram, dan TikTok. Selain itu, konten serupa juga ditemukan tersebar melalui komunitas tertentu di dark web.

(Mch)