JAKARTA – Upaya menekan tingginya beban biaya penyakit jantung terus digencarkan pemerintah. Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya deteksi dini melalui skrining di tingkat puskesmas sebagai langkah strategis pencegahan.
Menurutnya, kasus serangan jantung umumnya terjadi karena keterlambatan penanganan. Padahal, risiko tersebut sebenarnya bisa diantisipasi sejak dini saat kondisi pasien masih tergolong sehat.
Ia menjelaskan, faktor utama pemicu serangan jantung meliputi tekanan darah tinggi, kadar gula yang tidak terkontrol, serta kebiasaan merokok. Karena itu, Kementerian Kesehatan berfokus memperkuat layanan skrining di puskesmas agar masyarakat dapat lebih cepat mengetahui kondisi kesehatannya.
Di sisi lain, pemerintah juga telah menjalankan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini dirancang untuk mendeteksi potensi penyakit lebih awal sekaligus mendorong pendekatan promotif dan preventif dalam sistem layanan kesehatan.
Melalui CKG, masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, atau kebiasaan merokok dapat segera mendapatkan penanganan awal di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Jika kondisi tersebut dibiarkan selama beberapa tahun, risiko terkena serangan jantung atau stroke akan meningkat secara signifikan.
Selain memperkuat skrining, Kementerian Kesehatan juga menargetkan penyediaan alat elektrokardiogram (EKG) di seluruh puskesmas di Indonesia. Dengan langkah ini, deteksi gangguan jantung dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus langsung merujuk pasien ke rumah sakit.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, penanganan awal seperti terapi khusus dapat dilakukan di puskesmas oleh tenaga kesehatan yang telah terlatih dan terhubung dengan sistem layanan yang lebih luas. Langkah ini diyakini mampu mengurangi lonjakan pasien di rumah sakit sekaligus menekan beban pembiayaan BPJS Kesehatan.
Tak hanya itu, Kemenkes juga memperkuat kerja sama internasional. Bersama Tokushukai Medical Group, pemerintah menjadikan RSJPD Harapan Kita sebagai pusat pendidikan dan penelitian jantung terbesar di Asia.
Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran tenaga medis hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Dengan demikian, kapasitas sumber daya manusia dan kualitas layanan di bidang kardiovaskular diharapkan terus meningkat.
Pemerintah berharap, sinergi yang terbangun tidak hanya memperluas infrastruktur layanan, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga medis serta mutu pelayanan kesehatan jantung bagi masyarakat.
(Mch)












