Kesehatan

Bahan Pengawet Makanan: Mana yang Aman dan Berbahaya?

×

Bahan Pengawet Makanan: Mana yang Aman dan Berbahaya?

Sebarkan artikel ini
bahan pengawet
Ilustrasi (Cuitan Rakyat)

Pernah nggak sih Anda berdiri cukup lama di depan rak minimarket hanya untuk membaca daftar komposisi makanan? Mata sibuk mencari tanggal kedaluwarsa, lalu berhenti pada satu kalimat kecil: mengandung bahan pengawet. Nah, dari situlah biasanya drama kecil di kepala dimulai. Aman nggak ya? Bahaya nggak buat tubuh? Atau jangan-jangan semua makanan kemasan itu musuh kesehatan?

Anggapan tentang bahan pengawet makanan memang sering terdengar menyeramkan. Banyak orang langsung membayangkan zat kimia berbahaya yang diam-diam merusak organ tubuh. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada bahan pengawet yang memang dilarang karena berbahaya, tetapi ada juga yang sudah diuji dan diizinkan penggunaannya oleh BPOM dalam batas tertentu.

Lucunya, sebagian orang takut dengan nama bahan pengawet yang terdengar “kimiawi”, tetapi tetap santai mengonsumsi makanan yang jelas-jelas disimpan terlalu lama tanpa memperhatikan kebersihannya. Padahal, tanpa pengawet tertentu, beberapa makanan justru lebih cepat rusak dan bisa menjadi sarang bakteri berbahaya.

Di artikel ini kita bakal ngobrol lebih dalam soal bahan pengawet makanan. Mulai dari fungsi sebenarnya, jenis yang aman, pengawet yang wajib dihindari, sampai cara cerdas memilih makanan agar tubuh tetap sehat tanpa harus paranoid berlebihan.

Apa Itu Bahan Pengawet Makanan?

Secara sederhana, bahan pengawet makanan adalah zat yang ditambahkan ke dalam makanan untuk memperlambat proses pembusukan. Tujuannya cukup jelas: menjaga kualitas, rasa, warna, tekstur, dan keamanan makanan agar tetap layak dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu.

Bayangkan roti tawar tanpa pengawet. Dalam beberapa hari saja, permukaannya bisa berubah jadi “hutan mini” penuh jamur hijau. Atau susu yang cepat basi hanya karena disimpan terlalu lama di suhu ruang. Di sinilah fungsi pengawet bekerja.

Bahan pengawet membantu menghambat pertumbuhan:

  • Bakteri
  • Jamur
  • Ragi
  • Mikroorganisme lain

Tanpa perlindungan tersebut, makanan akan lebih cepat rusak dan berpotensi menyebabkan keracunan.

Baca juga:
Tanda-Tanda Kolesterol Tinggi yang Sering Diabaikan

Namun tentu saja, penggunaan bahan pengawet tidak boleh sembarangan. Ada aturan ketat mengenai jenis dan takaran yang diperbolehkan.

Prinsip Dasar Penggunaan Bahan Pengawet

Banyak orang mengira semua pengawet otomatis berbahaya. Faktanya, BPOM telah mengatur daftar bahan pengawet yang aman digunakan dalam industri makanan.

Artinya, selama penggunaannya sesuai standar dan tidak melebihi batas tertentu, bahan tersebut masih dianggap aman untuk dikonsumsi.

Beberapa bahan pengawet makanan yang umum digunakan dan relatif aman antara lain:

  • Sulfur dioxide
  • Asam sorbat
  • Asam benzoat
  • Asam sitrat
  • Sorbitol
  • Asam tartarat
  • Asam malat

Nama-nama ini mungkin terdengar seperti pelajaran kimia SMA yang bikin ngantuk, tetapi sebenarnya banyak ditemukan dalam produk sehari-hari.

Contohnya:

Asam Sitrat

Sering digunakan pada minuman kemasan untuk menjaga rasa tetap segar.

Asam Sorbat

Biasa dipakai pada keju dan produk roti agar tidak cepat berjamur.

Sorbitol

Kerap ditemukan dalam permen bebas gula dan makanan rendah kalori.

Masalah muncul ketika bahan pengawet dipakai secara berlebihan atau menggunakan zat yang memang dilarang untuk makanan.

Nah, bagian ini yang penting dipahami.

Jenis Bahan Pengawet Makanan yang Berbahaya

Tidak semua produsen nakal berhenti memakai bahan berbahaya. Beberapa kasus masih ditemukan, terutama pada makanan yang dijual murah tanpa pengawasan ketat.

Berikut beberapa bahan pengawet berbahaya yang wajib diwaspadai.

1. Formalin dan Boraks

Kalau dua nama ini muncul, alarm bahaya memang pantas berbunyi keras.

Apa Itu Formalin?

Formalin sebenarnya digunakan untuk:

  • Mengawetkan mayat
  • Bahan industri
  • Disinfektan

Tetapi sayangnya, masih ada oknum yang mencampurkannya ke makanan agar tahan lama.

Biasanya formalin ditemukan pada:

  • Tahu
  • Mi basah
  • Ikan asin
  • Bakso

Ciri-Ciri Makanan Mengandung Formalin

  • Tekstur terlalu kenyal
  • Tidak mudah basi
  • Bau menyengat seperti bahan kimia
  • Warna terlihat terlalu cerah
Baca juga:
Ramuan Herbal Alami untuk Cegah dan Redakan Flu Saat Musim Hujan

Dampak Formalin bagi Kesehatan

Penggunaan formalin dalam jangka panjang dapat menyebabkan:

  • Gangguan ginjal
  • Kerusakan hati
  • Iritasi saluran napas
  • Gangguan saraf
  • Risiko kanker

Ngeri? Memang.

Boraks Juga Tak Kalah Berbahaya

Boraks sering dipakai untuk membuat makanan terasa lebih kenyal.

Biasanya ditemukan pada:

  • Kerupuk
  • Bakso
  • Mi
  • Cilok

Padahal boraks adalah bahan pembersih dan bukan untuk dikonsumsi manusia.

Efeknya bisa memicu:

  • Mual
  • Muntah
  • Kerusakan ginjal
  • Gangguan otak

2. Sodium Benzoate

Nama ini cukup sering muncul pada label makanan dan minuman.

Sebenarnya sodium benzoate masih diizinkan dalam batas tertentu. Namun jika digunakan berlebihan, ada dugaan bahan ini dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan.

Beberapa penelitian mengaitkannya dengan:

  • Perilaku hiperaktif pada anak
  • Gangguan konsentrasi
  • Risiko leukemia
  • Potensi kanker tertentu

Meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut, konsumsi berlebihan tetap tidak disarankan.

Terutama jika dikombinasikan dengan pewarna buatan tertentu.

3. Sodium Nitrate

Bahan ini sering digunakan pada produk olahan daging seperti:

  • Sosis
  • Nugget
  • Kornet
  • Daging asap

Tujuannya untuk menjaga warna daging tetap menarik dan mencegah pertumbuhan bakteri.

Namun konsumsi berlebihan sodium nitrate diduga dapat:

  • Merusak pembuluh darah
  • Membuat arteri menyempit
  • Meningkatkan risiko penyakit jantung

Dalam kondisi tertentu, sodium nitrate juga bisa berubah menjadi nitrosamin, senyawa yang dikaitkan dengan kanker.

4. TBHQ atau Tertiary Butylhydroquinone

Namanya memang terdengar seperti password WiFi tetangga.

TBHQ digunakan untuk memperpanjang masa simpan makanan olahan, terutama makanan berlemak seperti:

  • Mi instan
  • Keripik
  • Makanan beku

Dalam jumlah kecil, penggunaannya masih diizinkan. Tetapi konsumsi berlebihan diduga dapat menyebabkan:

  • Gangguan saraf
  • Kerusakan hati
  • Risiko tumor

Karena itu, konsumsi makanan ultra-proses sebaiknya tidak berlebihan.

Sekali-sekali makan mi instan memang nikmat. Terutama saat hujan, pakai telur, cabai rawit, dan drama kehidupan. Tetapi kalau setiap hari? Tubuh juga bisa protes diam-diam.

Baca juga:
7 Makanan Pengganti Nasi untuk Minum Obat yang Aman

Mengapa Pengawet Tetap Dibutuhkan?

Ini bagian yang sering dilupakan.

Banyak orang ingin semua makanan bebas pengawet, tetapi tetap berharap makanan tahan lama. Padahal dua hal itu kadang sulit berjalan bersamaan.

Pengawet sebenarnya membantu:

  • Mengurangi pemborosan makanan
  • Menjaga keamanan pangan
  • Memperpanjang umur simpan
  • Mencegah keracunan akibat bakteri

Bayangkan susu segar tanpa proses pengawetan atau pendinginan. Dalam hitungan jam saja bisa rusak.

Atau roti tanpa perlindungan antijamur yang berubah hijau sebelum sempat dimakan.

Di industri makanan modern, pengawet membantu distribusi produk ke berbagai daerah tanpa membuat makanan cepat rusak.

Yang penting adalah jenis pengawet dan jumlah penggunaannya.

Makanan yang Tidak Memerlukan Pengawet

Menariknya, tidak semua makanan perlu tambahan pengawet.

Umumnya makanan dengan kadar air rendah lebih tahan lama secara alami.

Contohnya:

  • Keripik
  • Biskuit
  • Kacang panggang
  • Snack kering

Karena kelembapannya rendah, bakteri dan jamur lebih sulit berkembang.

Apalagi jika dikemas rapat dan disimpan dengan benar.

Tetapi tetap perlu hati-hati. Walaupun tanpa pengawet, makanan tinggi gula, garam, atau lemak tetap bisa berdampak buruk jika dikonsumsi berlebihan.

Jadi jangan sampai merasa aman hanya karena ada tulisan tanpa pengawet lalu makan sebungkus besar keripik sendirian sambil nonton drama sampai subuh. Tubuh tetap punya batas toleransi.

Cara Memilih Makanan yang Lebih Aman

Supaya tidak panik setiap membaca label kemasan, berikut beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari.

1. Baca Label Kemasan

Luangkan beberapa detik untuk membaca komposisi.

Semakin pendek daftar bahannya, biasanya semakin baik.

Jika ada terlalu banyak bahan tambahan yang terdengar asing, pertimbangkan kembali sebelum membeli.

2. Perhatikan Izin BPOM

Produk resmi biasanya sudah melewati pengawasan tertentu.

Baca juga:
Penyebab Jantung Bengkak dan Cara Mengobatinya

Hindari makanan tanpa:

  • Nomor BPOM
  • Tanggal kedaluwarsa
  • Informasi produsen

3. Jangan Tergoda Warna Terlalu Mencolok

Makanan yang warnanya terlalu terang kadang menggunakan tambahan berlebihan.

Bakso super putih atau mi terlalu mengkilap misalnya, patut dicurigai.

4. Batasi Makanan Ultra-Proses

Makanan instan memang praktis. Tetapi konsumsi terlalu sering bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Cobalah lebih banyak makan:

  • Buah
  • Sayur
  • Protein segar
  • Makanan rumahan

Tubuh biasanya lebih “tenang” menerima makanan alami.

5. Simpan Makanan dengan Benar

Kadang masalah bukan pada pengawetnya, tetapi cara penyimpanannya.

Makanan sehat sekalipun bisa berbahaya jika:

  • Disimpan terlalu lama
  • Tidak didinginkan
  • Terpapar udara terbuka

Apakah Semua Makanan Alami Pasti Lebih Sehat?

Nah, ini juga menarik.

Belakangan muncul tren semua harus organik, alami, dan bebas bahan tambahan. Memang bagus, tetapi bukan berarti otomatis lebih sehat dalam semua kondisi.

Makanan alami tetap bisa:

  • Terkontaminasi bakteri
  • Cepat basi
  • Menyebabkan keracunan

Contohnya susu segar mentah yang tidak dipasteurisasi. Terlihat alami, tetapi bisa membawa bakteri berbahaya.

Jadi inti utamanya bukan sekadar “alami atau tidak”, melainkan keamanan dan cara pengolahannya.

Dampak Konsumsi Pengawet Berlebihan

Tubuh manusia sebenarnya punya kemampuan untuk memproses banyak zat tambahan dalam jumlah kecil. Tetapi jika berlebihan dan berlangsung terus-menerus, risikonya meningkat.

Beberapa dampak yang mungkin muncul antara lain:

Gangguan Pencernaan

Perut kembung, mual, atau diare.

Alergi

Sebagian orang sensitif terhadap zat tertentu.

Gangguan Hormon

Beberapa bahan tambahan diduga memengaruhi keseimbangan hormon.

Risiko Penyakit Kronis

Konsumsi makanan ultra-proses dalam jangka panjang dikaitkan dengan:

  • Obesitas
  • Diabetes
  • Penyakit jantung
  • Kanker tertentu

Karena itu pola makan seimbang jauh lebih penting daripada sekadar takut pada satu bahan tertentu.

Cara Mengurangi Konsumsi Bahan Pengawet

Tidak harus langsung ekstrem membuang semua makanan kemasan dari rumah. Mulai saja perlahan.

Baca juga:
Rahasia Nutrisi Putih dan Kuning Telur untuk Kesehatan

Berikut langkah realistis yang bisa dicoba.

Masak Lebih Sering

Makanan rumahan biasanya lebih minim tambahan bahan kimia.

Pilih Makanan Segar

Buah, sayur, ikan, dan daging segar tetap jadi pilihan terbaik.

Kurangi Minuman Kemasan

Coba lebih banyak minum air putih atau jus tanpa tambahan gula berlebihan.

Bawa Bekal

Selain hemat, Anda juga lebih tahu isi makanannya.

Jangan Kalap Belanja Snack

Kadang bukan lapar, cuma bosan. Ujungnya keranjang penuh camilan tinggi pengawet.

Percaya deh, tubuh biasanya terasa lebih ringan ketika pola makan mulai diperbaiki sedikit demi sedikit.

Peran BPOM dalam Mengawasi Bahan Pengawet

Di Indonesia, BPOM memiliki tugas penting dalam mengawasi keamanan pangan.

Mereka menentukan:

  • Bahan yang boleh digunakan
  • Batas maksimal penggunaan
  • Produk yang harus ditarik dari pasaran

Karena itu penting membeli produk resmi yang sudah terdaftar.

Jika menemukan makanan mencurigakan, masyarakat juga bisa melaporkannya.

Kesadaran konsumen sebenarnya punya pengaruh besar dalam membuat produsen lebih bertanggung jawab.

Kesimpulan

Bahan pengawet makanan bukan selalu musuh kesehatan. Beberapa jenis pengawet aman digunakan selama sesuai aturan dan tidak dikonsumsi berlebihan.

Yang perlu diwaspadai justru penggunaan bahan berbahaya seperti formalin dan boraks yang memang dilarang untuk makanan.

Kunci utamanya adalah bijak memilih makanan, membaca label, dan menjaga pola makan seimbang.

Tidak perlu hidup dalam ketakutan setiap melihat makanan kemasan, tetapi juga jangan terlalu cuek terhadap apa yang masuk ke tubuh setiap hari.

Karena pada akhirnya, kesehatan bukan dibangun dari satu kali makan sehat atau satu bungkus mi instan. Melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Dan tubuh manusia itu unik. Ia mungkin diam hari ini, tetapi selalu mencatat apa yang kita berikan padanya setiap hari. Semoga bermanfaat!.

(Mch)